Agama Khonghucu
Agama Khonghucu adalah istilah yang muncul sebagai akibat dari keadaan politik di Indonesia. Agama Khonghucu lazim dikaburkan makna dan hakikatnya dengan Konfusianisme sebagai filsafat.
Agama Khonghucu menekankan kepada umatnya untuk menjalankan tugas kewajibannya sehari-hari dengan penuh tanggung jawab. Setiap hari umat Khonghucu wajib bekerja dan belajar agar kualitas hidupnya selalu meningkat sebagai pelaksanaan dari membina diri atau xiu shen. Umat Khonghucu selalu bekerja keras, seakan-akan bila hari ini tidak bekerja keras besok tidak ada nasi untuk dimakan oleh anggota keluarganya. Kerja keras umat Khonghucu ini didasari oleh tanggung jawabnya sebagai manusia atau karena ada harapan yang menanti di masa depan. Umat khonghucu akan mendapatkan materi yang cukup untuk menjalani kehidupan yang sejahtera apabila mereka bekerja keras. Dengan menjalani kehidupan yang sejahtera umat Khonghucu tidak merasa malu kepada leluhurnya yang sudah pergi ke “dunia lain” dan kepada keturunanya yang akan datang kelak. Apakah umat Khonghucu bisa tahan hidup dengan bekerja keras hanya didasar rasa tanggung jawab sebagai manusia? Nabi Khongcu berkata:” Apabila Tuhan tidak menginginkan kebudayaan Bun musna, apakah yang dapat dilakukan oleh Hwan Twee kepada Ku?”. Kata-kata Nabi Khongcu itu menunjukkan bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai manusia karena diberi tugas oleh Tuhan untuk menyelamatkan kebudayaan Bun (kebudayaan Tionghoa yang sudah dibangun oleh Raja Bun). Kata-kata Nabi Khonghucu tersebut sebagai keyakinan-Nya bahwa Beliau ditugaskan oleh Tuhan, atau sebagai kata-kata untuk menenangkan murid-murid-Nya. Tentunya kedua tafsiran tersebut benar. Namun, apabila kita perhatikan sabda-sabda Nabi yang tertulis dalam Kitab Wu Jing dan Shi Su Nabi Khongcu mempunyai penghayatan yang mendalam atas penugasan Tuhan kepada Beliau di dunia ini. Dengan penghayatan yang mendalam kita baca isi kitab Zhong Yong dan Lun Yu, maka kita akan ikut merasakan perasaan Nabi Khongcu dalam menjalankan tugas dari Tuhan itu. Umat agama Khonghucu dalam sela-sela kesibukannya dapat merenungkan perjalanan hidupnya yang penuh suka dan duka. Mereka dapat bercermin dari sabda-sabda Nabi Khongcu itu untuk menghayati kehidupan spiritualnya. Mereka akan merasa dan menyadari bahwa hidup mereka bukan seperti makhluk yang tersesat ke dunia ini. Mereka akan menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini direncanakan oleh Sang Pencipta. Semua benda dan manusia yang ada dalam lingkungan mereka ikut serta dalam perencanaan itu. Kata Tao (Dao) atau Jalan Suci menjadi kunci bagi umat Khonghucu untuk membuka pengalaman spiritual itu. Jalan Suci itu tidak boleh terpisah biar sekejap pun. Yang bisa terpisah itu bukan Jalan Suci. Maka seorang Junzi (Kuncu) hati-hati teliti kepada Dia yang tidak kelihatan. Khawatir takut kepada Dia yang tidak terdengar (Zhong Yong, BU: 2).
Pada ayat di atas, kata Dia ditulis dengan huruf besar sebagai hal yang perlu diperhatikan. Yang tidak tampak dan tidak terdengar adalah objek yang perlu diperhatikan oleh orang yang menghayati kehidupan spiritual. Berbeda dengan ahli ilmu pengetahuan yang hanya memperhatikan yang tampak dan terdengar sebagai fakta objektif. Orang bisa memperhatikan yang tidak tampak dan yang tidak terdengar hanya saat dia berada dalam kesunyian sendiri, bahkan nafasnya sendiri juga tidak boleh terdengar. Hal seperti ini dapat dicapai dengan latihan yang teratur dan tekun. Pengalaman spiritual yang dirasakan oleh orang yang benar-benar sudah mengistirahatkan pikiran dan pancainderanya.
Pada ayat di atas, kata Dia ditulis dengan huruf besar sebagai hal yang perlu diperhatikan. Yang tidak tampak dan tidak terdengar adalah objek yang perlu diperhatikan oleh orang yang menghayati kehidupan spiritual. Berbeda dengan ahli ilmu pengetahuan yang hanya memperhatikan yang tampak dan terdengar sebagai fakta objektif. Orang bisa memperhatikan yang tidak tampak dan yang tidak terdengar hanya saat dia berada dalam kesunyian sendiri, bahkan nafasnya sendiri juga tidak boleh terdengar. Hal seperti ini dapat dicapai dengan latihan yang teratur dan tekun. Pengalaman spiritual yang dirasakan oleh orang yang benar-benar sudah mengistirahatkan pikiran dan pancainderanya.
Bagi manusia, mata adalah alat untuk melihat, telinga adalah alat untuk mendengar. Apabila alat-alat pancaindera itu tidak berfungsi orangnya tidak dapat melihat dan mendengarkan apa pun. Sebaliknya, orang yang mempunyai alat pancaindera yang berfungsi baik, tetapi perhatian hatinya (kesadarannya) tidak pada tempatnya, semua yang didepannya tidak terlihat dan semua suara tidak terdengar. Tiada yang lebih tampak dari pada yang tersembunyi itu. Tiada yang lebih jelas dari pada yang terlembut itu. Maka seorang Junzi hati-hati pada waktu seorang diri (Zhong Yong, BU:3).
Dalam kitab Su King tertulis bahwa manusia mempunyai Ren Xin atau hati manusiawi yang dalam kerawanan, dan mempunyai hati ilahi atau dao xin yang sangat lembut. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia menggunakan ren xin-nya, dan tidak pernah menyadari bahwa dia juga memiliki hati ilahi atau dao xin. Oleh karena itu, dalam kesehariannya manusia terombang-ambing dalam puas, suka, sedih, dan marah... Kalimat:” Maka seorang Junzi hati-hati pada waktu seorang diri” bukan sendiri dalam arti fisik, tetapi sendiri dalam arti spiritual. Orang yang sedang berada “sendirian” yang dimaksud adalah orang itu berada bersama kesadarannya atau hatinya saja, tidak diserta yang lain. Saat seseorang dapat melepaskan semua pikirannya, semua emosinya, dan semua keinginannya itu artinya dia berada seorang diri. Dalam hal seorang diri seperti ini orang mudah tersesat.
Contohnya, orang merasa mendapatkan wangsit atau mendengar suara gaib yang menyesatkan pikirannya. Dalam agama Khonghucu ada cara untuk menguji kebenaran suara gaib, yaitu dengan mencocokkan dengan ayat-ayat dalam Kitab Suci dan mendiskusikan dengan para rohaniwan agama Khonghucu yang senior. Dalam agama Khonghucu dikenal adanya Ren Xin atau hati manusiawi, yaitu hati yang aktif pada waktu orang sadar, dan Dao Xin hati yang Suci tersembunyi atau sangat lembut. Dalam bahasa Inggris Ren Xin disebut flesly-heart, dan Dao Xin disebut Heavenly-heart. Dalam kitab Su King tertulis sebagai berikut: Ren Xin Wei Wei Dao Xin Wei Wei Wei Jing Wei Yi Yun Chi Jue Zhong
Artinya:
Hati manusiawi atau Ren Xin selalu dalam bahaya. Hati yang berada dalam Jalan Suci Tuhan atau Dao Xin sangat rahasia. Inti sarinya hanya Satu. Jangan ingkar dari tengah Ren Xin itu dikatakan rawan atau dalam bahaya karena mudah tercampur dengan nafsu, emosi, dan pikiran yang menyesatkan. Diingatkan agar orang selalu ingat tengah. Oleh Nabi Khongcu, kata tengah itu diartikan Tengah Sempurna. Kata-kata di atas diucapkan oleh Raja Shun (27 abad SM). Nabi Khongcu sebagai Nabi Penerus melengkapi ajaran para Raja Suci zaman kuna.
Dalam kitab Su King tertulis bahwa manusia mempunyai Ren Xin atau hati manusiawi yang dalam kerawanan, dan mempunyai hati ilahi atau dao xin yang sangat lembut. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia menggunakan ren xin-nya, dan tidak pernah menyadari bahwa dia juga memiliki hati ilahi atau dao xin. Oleh karena itu, dalam kesehariannya manusia terombang-ambing dalam puas, suka, sedih, dan marah... Kalimat:” Maka seorang Junzi hati-hati pada waktu seorang diri” bukan sendiri dalam arti fisik, tetapi sendiri dalam arti spiritual. Orang yang sedang berada “sendirian” yang dimaksud adalah orang itu berada bersama kesadarannya atau hatinya saja, tidak diserta yang lain. Saat seseorang dapat melepaskan semua pikirannya, semua emosinya, dan semua keinginannya itu artinya dia berada seorang diri. Dalam hal seorang diri seperti ini orang mudah tersesat.
Contohnya, orang merasa mendapatkan wangsit atau mendengar suara gaib yang menyesatkan pikirannya. Dalam agama Khonghucu ada cara untuk menguji kebenaran suara gaib, yaitu dengan mencocokkan dengan ayat-ayat dalam Kitab Suci dan mendiskusikan dengan para rohaniwan agama Khonghucu yang senior. Dalam agama Khonghucu dikenal adanya Ren Xin atau hati manusiawi, yaitu hati yang aktif pada waktu orang sadar, dan Dao Xin hati yang Suci tersembunyi atau sangat lembut. Dalam bahasa Inggris Ren Xin disebut flesly-heart, dan Dao Xin disebut Heavenly-heart. Dalam kitab Su King tertulis sebagai berikut: Ren Xin Wei Wei Dao Xin Wei Wei Wei Jing Wei Yi Yun Chi Jue Zhong
Artinya:
Hati manusiawi atau Ren Xin selalu dalam bahaya. Hati yang berada dalam Jalan Suci Tuhan atau Dao Xin sangat rahasia. Inti sarinya hanya Satu. Jangan ingkar dari tengah Ren Xin itu dikatakan rawan atau dalam bahaya karena mudah tercampur dengan nafsu, emosi, dan pikiran yang menyesatkan. Diingatkan agar orang selalu ingat tengah. Oleh Nabi Khongcu, kata tengah itu diartikan Tengah Sempurna. Kata-kata di atas diucapkan oleh Raja Shun (27 abad SM). Nabi Khongcu sebagai Nabi Penerus melengkapi ajaran para Raja Suci zaman kuna.
SEJARAH
Konfusianisme sebagai agama dan filsafat
Konfusianisme muncul dalam bentuk agama di beberapa negara seperti Korea, Jepang, Taiwan, Hong Kong dan RRC. Dalam bahasa Tionghoa, agama Khonghucu seringkali disebut sebagai Kongjiao (孔教) atau Rujiao (儒教).
Di zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaaan dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Ini menyebabkan banyak pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 5 agama yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh sebagai atheis dan komunis), pemeluk kepercayaan tadi kemudian diharuskan untuk memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agama Kristen atau Buddha. Klenteng yang merupakan tempat ibadah kepercayaan tradisional Tionghoa juga terpaksa merubah nama dan menaungkan diri menjadi vihara yang merupakan tempat ibadah agama Buddha.
[sunting] Agama Khonghucu di zaman Orde Reformasi
Seusai Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mencari kembali pengakuan atas identitas mereka. Untuk memenuhi syarat sebagai agama yang diakui menurut hukum Indonesia, maka beberapa lokalisasi dilancarkan menimbulkan perbedaan pengertian agama Khonghucu di Indonesia dengan Konfusianisme di luar negeri.
Hal-hal yang perlu diketahui dalam agama Khonghucu
· Menetapkan Litang (Gerbang Kebajikan) sebagai tempat ibadah resmi, namun dikarenakan tidak banyak akses ke litang, masyarakat umumnya menganggap klenteng sebagai tempat ibadah umat Khonghucu.
· Menetapkan tahun baru Imlek, sebagai hari raya keagamaan resmi
· Hari-hari raya keagamaan lainnya; Imlek, Hari lahir Khonghucu (28-8 Imlek), Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek), Hari Genta Rohani (Tangce) 22 Desember, Chingming (5 April), Qing Di Gong (8/9-1 Imlek) dsb.
· Rohaniawan; Jiao Sheng (Penebar Agama), Wenshi (Guru Agama), Xueshi (Pendeta), Zhang Lao (Tokoh/Sesepuh).
· Kalender Imlek terbukti di buat oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Nabi Khongcu mengambil sumbernya dari penangalan dinasti Xia (2200 SM) yang sudah di tata kembali oleh Nabi Khongcu.
Tahun Zaman Nabi Khongcu Tahun Baru jatuh 22 Desember. 4 February pergantian musim dingin ke musim semi. Jadi imlek bukan perayaan musim semi. Perkiraan tanggal 1 imlek, rentang waktunya 15 hari kedepan dan 15 hari kebelakang dari 4 Pebruary tersebut.Tiap 4 atau 5 tahun sekali ada bulan ke 13, untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak berubah.
Ajaran Konfusius
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao (儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Ajaran falsafah ini diasaskan oleh Kong Hu Cu yang dilahirkan pada tahun 551 SM Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini. Ia meninggal dunia pada tahun 479 SM.
Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mensius ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.
Intisari ajaran Khong Hu Cu
· Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
· 1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
· 2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
· 3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
· 4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
· 5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
· 6. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
· 7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
· 8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
· Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):
· Ren - Cintakasih
· Yi - Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
· Li - Kesusilaan, Kepantasan
· Zhi - Bijaksana
· Xin - Dapat dipercaya
· Lima Hubungan Sosial (Wu Lun):
· Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
· Hubungan antara Suami dan Isteri
· Hubungan antara Orang tua dan anak
· Hubungan antara Kakak dan Adik
· Hubungan antara Kawan dan Sahabat
· Delapan Kebajikan (Ba De):
· Xiao - Laku Bakti
· Ti - Rendah Hati
· Zhong - Satya
· Xin - Dapat Dipercaya
· Li - Susila
· Yi - Bijaksana
· Lian - Suci Hati
· Chi - Tahu Malu
· Zhong Shu = Satya dan Tepa selira/Tahu Menimbang:
"Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan terhadap orang lain" (Lunyu)
Kitab suci
Kitab sucinya ada 2 kelompok, yakni:
· Kitab Chun-qiu 春秋經 Chunqiu Jing
· Si Shu (Kitab Yang Empat) yang terdiri atas:
· Kitab Tengah Sempurna - 中庸 Zhong Yong
Selain itu masih ada satu kitab lagi: Xiao Jing (Kitab Bhakti).
[sunting] Definisi agama menurut agama Khonghucu
Berdasarkan kitab Zhong Yong agama adalah bimbingan hidup karunia Tian/Tuhan Yang Maha Esa (Tian Shi) agar manusia mampu membina diri hidup didalam Dao atau Jalan Suci, yakni "hidup menegakkan Firman Tian yang mewujud sebagai Watak Sejati, hakikat kemanusiaan". Hidup beragama berarti hidup beriman kepada Tian dan lurus satya menegakkan firmanNya.
Nabi
Para nabi (儒教聖人) Ru Jiao di antaranya:
· Nabi Purba (扶羲) Fu Xi * 2952 – 2836 SM
· Fu Xi beristrikan Nabi Nu Wa (Lie Kwa, Hokian) yang menciptakan Hukum Perkawinan
· Nabi Purba (神農) Shen Nong 2838 – 2698 SM
· Nabi Purba (黃帝) Huang Di 2698 – 2596 SM
· Istrinya, Nabi Lei Zu adalah penemu sutra yang ditenunnya dari kepompong ulat sutra dan bersama Huang Di menciptakan alat tenun, pakaian Hian Ik (pakaian harian) dan Hong Siang (pakaian upacara).
· Nabi Purba (堯) Yao 2357 – 2255 SM
· Nabi Purba (舜) Shun 2255 – 2205 SM
· Nabi Purba (大 禹) Da Yu * 2205 – 2197 SM
· Nabi Purba (商 湯) Shang Tang* 1766 – 1122 SM
· Nabi Wen, Wu 文, 武 (周公) Zhou-gong* 1122 – 255 SM
Tempat ibadah agama Khonghucu
Nama tempat ibadah agama Khonghucu pada umumnya adalah:
· Kong Miao, 孔廟(Confucius Temple); Ada satu ciri khas yang membedakan antara Miao atau Kuil Khonghucu dengan bangunan tempat ibadah yang serupa. Pada umumnya di dalam Kong Miao tidak terdapat patung dewa-dewi, melainkan hanya berupa tulisan pada papan peringatan (Sienci 神柱) yang biasanya hanya berisi tulisan tentang nama Nabi Kongfuzi 孔夫子 /Khonghucu (nama yang lebih umum 孔子 Kongzi)dan juga nama-nama para muridnya yang terkenal. Bangunan Kong Miao yang tertua di Indonesia terdapat di kota Surabaya yang dikenal dengan "Boen Bio" dan Khongcu Bio di kota Cirebon.
· Litang, 禮堂 (Ruang Ibadah); Litang adalah nama tempat ibadah agama Khonghucu yang banyak terdapat di Indonesia. Saat ini sudah ada lebih dari 150 Litang yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan MAKIN (印尼孔教總會, Majelis Agama Khonghucu Indonesia)dan organisasi pusatnya adalah MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).Ciri tempat ibadah tersebut selain altarnya yang berisi Kim Sin (金神) Nabi Kongzi/Khonghucu, juga biasanya terdapat lambang "Mu Duo" 木鐸 atau Bok Tok (dalam dialek Hokian) yaitu berupa gambar Genta dengan tulisan huruf 'Zhong Shu' atau Tiong Sie (bahasa Hokian) artinya "Satya dan Tepasarira/Tenggang Rasa" yang merupakan inti ajaran agama Khonghucu. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Kongzi dalam Kitab Lun Yu 論語: "Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan terhadap orang lain".
Umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah di Litang setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Namun ada pula yang melaksanakannya pada hari Minggu dan hari lain, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan setempat. Upacara-upacara hari keagamaan lain seperti peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu (至聖誕, 28 bulan 8 Iemlik), Hari Wafat Khonghucu (至聖忌辰 18 bulan 2 Iemlik), Hari Tangcik (冬至 Genta Rohani), dan Tahun Baru Iemlik(春節) dsb. biasanya juga dilakukan di Litang.
· Kelenteng, 廟 Miao; kelenteng pada umumnya digunakan sebagai sarana tempat bersembahyang/ibadah oleh kebanyakan orang Tionghoa terutama umat tradisional sehingga kadang-kadang kita sulit membedakan apakah mereka itu penganut agama Buddha Mahayana, Khonghucu atau Tao. Namun kalau kita telaah lebih jauh, ada ciri yang membedakan dari ketiga bangunan tempat ibadah masing-masing penganut agama tersebut yaitu dari nama kelenteng tersebut dan juga para Dewa-dewi yang berada dalam bangunan Kelenteng tersebut. Namun secara umum bangunan Kelenteng biasanya bergaya arsitektur khas Tiongkok, misalnya terdapat ukiran Naga atau Liong pada bagian atas atap atau tiang/pilarnya,ada lukisan Qilin (麒麟, Hokkian:Kilien)- binatang yang dianggap suci, bentuknya seperti seekor rusa, kulitnya bersisik berwarna hijau keemasan, bertanduk tunggal. Hewan suci ini pernah muncul pada saat menjelang kelahiran Khonghucu/Kongzi dan terbunuh oleh Pangeran Lu Ai Gong 魯哀公dalam perburuannya yang menandai peristiwa sebelum kewafatan Khonghucu.
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (disingkat MATAKIN) adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama Konghucu di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1955.
Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu diantara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara .
Wen Miao (文庙) - Surabaya
Kehadiran Agama Khonghucu di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, Kelenteng Ban Hing Kiong di Manado didirikan pada tahun 1819 . Di Surabaya didirikan tempat ibadah Agama Khonghucu yang disebut mula-mula : Boen Tjhiang Soe, kemudian dipugar kembali dan disebut sebagai Boen Bio pada tahun 1906. Sampai dengan sekarang Boen Bio yang terletak di Jalan Kapasan 131, Surabaya masih terpelihara dengan baik dibawah asuhan Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) “Boen Bio” Surabaya.
Di Sala didirikan Khong Kauw Hwee sebagai Lembaga Agama Khonghucu pada tahun 1918. Pada tahun 1923 telah diadakan Kongres pertama Khong Kauw Tjong Hwee (Lembaga Pusat Agama Khonghucu) di Yogyakarta dengan kesepakatan memilih kota Bandung sebagai Pusat. Pada tanggal 25 September 1924 di Bandung diadakan Kongres ke dua yang antara lain membahas tentang Tata Agama Khonghucu supaya seragam di seluruh kepulauan Nusantara

